Total Tayangan Laman

Sabtu, 17 November 2012

rehabilitasi anak tunanetra



Pembelajaran bagi anak tunanetra adalah sebaiknya berpusat pada apa, bagaimana, dan dimana pembelajaran khusus yang sesuai dengan kebutuhan dengan kelainannya.
Pembelajaran khusus yang sesuai dengan kebutuhan siswa adalah tentang apa yang diajarkan, prinsip-prinsip tentang metode khusus yang ditawarkan dalam konteks bagaimana pembelajaran tersebut disediakan, dan yang terakhir adalah tempat pendidikan yang sesuai dengan anak dimana pembelajaran akan dilakukan.
Pembelajaran dalam kurikulum inti yang diperluas
Terdapat dua set kebutuhan kurikulum untuk siswa tunanetra, yang pertama adalah kurikulum yang diperuntukkan untuk siswa pada umumnya dan yang kedua adalah kurikulum inti yang diperluas. Kurikulum inti yang diperluas ini misalnya terdapat keterampilan kompensatoris, keterampilan interaksi sosial, dan keterampilan pendidikan karier. Kelemahan kurikulum inti yang diperluas ini adalah terbatasnya waktu pengajaran.
Mempergunakan prinsip-prinsip dan metode khusus
Anak tunanetra membutuhkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar khusus mereka. Lowenfeld mengemukakan tiga prinsip metode khusus untuk membantu mengatasi ketunanetraan, antara lain:
1. Membutuhkan pengalaman nyata
Guru perlu memberikan kesematan kepada siswa untuk mempelajari lingkungannya melalui ekslorasi perabaan tentang situasi dan benda-benda yang ada di sekitarnya dengan menggunakan indera-indera lainnya. Bagi siswa low vision aktivitas ini merupakan tambahan bagi eksplorasi visual yang dilakukan. Media yang digunakan adalah benda-benda nyata atau model.
2. Membutuhkan pengalaman menyatukan
Dengan menggunakan pembelajaran gabungan, guru akan mengajarkan menghubungkan mata pelajaran akademis dengan dengan pengalaman kehidupan nyata. Hal ini bertujuan agar siswa dapat lebih mudah menyatukan hubungan antara konsep teori dengan praktek dalam kehiduan sehari-harinya.
3. Membutuhkan belajar sambil bekerja
Dengan memberikan kesempatan praktek terhadap siswa tunanetra, maka keterampilan siswa tunanetra dapat dikembangkan dengan lebih maksimal. Dalam kurikulum inti yang diperluas terdapat bidang seperti orientasi dan mobilitas, ini dapat dipelajari dengan lebih mudah oleh siswa tunanetra dengan pendekatan belajar sambil bekerja.
Ada beberapa hal yang dapat diberikan kepada siswa sehubungan dengan adanya kekurangan siswa dalam hal penglihatan (tunanetra). Kebutuhan-kebutuhan ini sangat membantu siswa tunanetra dalam menjalankan pendidikannya, antara lain:
a. Alat Pendidikan
1. Tunanetra (blind)
Alat pendidikan bagi tunanetra terdiri dari : Alat pendidikan khusus, alat Bantu peraga dan alat peraga.
a) Alat Pendidikan Khusus :
- Mesin tik Braille
- Printer Braille
b) Alat Bantu
- Alat bantu perabaan (buku-buku, air panas/dingin, batu, dsb)
- Alat Bantu pendengaran (kaset, CD, talkingbooks)
c) Alat Peraga
Alat peraga tactual atau audio yaitu alat peraga yang dapat diamati melalui perabaan atau pendengaran.(patung hewan, patung tubuh manusia , peta timbul)
2. Low Vision
Alat Bantu pendidikan bagi anak low vision terdiri dari alat bantu optic, alat Bantu kacamata, kaca mata pembesaran dan alat peraga.
a) Alat Bantu Optik :
- Kaca mata
- Kaca mata perbesaran
- Hand magnifier / kaca pembesar
b) Alat Bantu
- Kertas bergaris besar
- Spidol hitam
- Lampu meja
- Penyangga buku
c) Alat Peraga
- Gambar yang diperbesar
- Benda asli yang diawetkan
- Patung / benda model tiruan
b. Tenaga Kependidikan
Tenaga Kependidikan yang dibutuhkan antra lain :
1. Guru
2. Psikolog
3. Dokter mata
4. Optometris
c. Model Pendidikan
1. Pendidikan Inklusif
Pendidikan Inklusif adalah pendidikan pada sekolah umum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang memerlukan pendidikan khusus pada sekolah umum dalam satu kesatuan yang sistemik. Kurikulum yang digunakan pada pendidikan inklusif adalah kurikulum yang fleksibel yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa.
2. Pendidikan Khusus (SLB)
Pendidikan Khusus (SLB) adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
3. Guru Kunjung
Model guru kunjung dilakukan dalam upaya pemerataan pendidikan bagi anak tunanetra usia sekolah. Model ini diberlakukan dalam hal anak tunanetra tidak dapat belajar di sekolah khusus atau sekolah lainnya karena tempat tinggal yang sulit dijangkau, jarak sekolah dan rumah terlalu jauh, kondisi anak

ACTIVITY DAILY LIVING SKILL (ADL) BAGI PENYANDANG TUNANETRA

                   Activity daily living (ADL) adalah keterampilan dalam melakukan kegiatan dalam kegiatan sehari-hari yang dilakukan secara mudah dan layak seperti merawat diri, kegiatan didapur , merawat perkakas rumah tangga dan kegiatan-kegiatan pada umumnya yang dilakukan dalam memenuhi hajat hidup sehari-hari .

          Fungsi dari activity daily living (ADL) bagi penyandang tunanetra adalah :
·                     Meningkatkan kemandarian , sehingga tidak banyak meminta bantuan orang lain dan meminimalkan ketergantungan.
·                     Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar dan penting untuk memenuhi kebutuhan pribadi.
·                     Agar penyandang tunanetra tidak tidak menjadi beban tambahan bagi lingkungan dan masyarakat.
·                     Melengkapi tugas-tugas pokok secara efisien dalam berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat sekitar, sehingga dapat diterima

      .KETRAMPILAN YANG DIBUTUHKAN ANAK TUNANETRA

        A. Ketrampilan menolong diri sendiri
      Kebiasaan merawat diri dengan sebaik-baiknya penting bagi setiap orang tidak terkecuali bagi tunanetra agar penampilanya dalam kemasyarakatan mempunyai kepercayaan diri ,sehingga tidak mempunyai harga diri yang rendah . ketrampilan ini meliputi :
·         Mandi
·         Menyikat gigi
·         Merawat rambut
·         Mencukur kumis ( laki-laki)
·         Merawat pakaian

B. Ketrampilan dalam kerumahtanggan
      Tunanetra baik laki-laki maupun wanita yang sudah duduk di sekolah lanjutan atas harus mempelajari pengetahuan tentang dasar kerumah tanggaan  yang meliputi :
·         Tata dapur
·         Merawat perkakas rumah tangga
·         Kegiatan umum ( mengenal mata uang , menggunakan kamar kecil dll)

C. Ketrampilan bergaul
      Ketrampilan bergaul bagi tunanetra dapat menjadika orang menjadi betah atau tertekan . karena ketrampilan ini sangat penting terutama untuk anak tunanetra yang sudah mendekati masa remaja .Adapun ketrampilan bergaul yang perlu diperhatikan untuk tunanetra adalah :
·         Ketrampilan memperkenalkan diri
·         Ketrampilan bermain
·         Ketrampilan berkomunikasi
·         Memiliki rasa tanggung jawab

Ada dua hal yang sangat diandalkan oleh penyandag tunanetra yaitu orientasi dan mobilitasi. Orientasi dalah proses penggunaan indera-indera yang masih berfungsi untuk menetapkan posisi diri dan hubungannya dengan obyek-obyek yang ada dalam lingkunganya.

Pengertian tersebut dapat diperjelas lagi yaitu proses penggunaan indera yang masih berfungsi diartikan sebagai cara indera dalam menyalurkan rangsang informasi sehingga dapat sampai dan diolah otak menjadi sesuatu informaasi yang berguna dalam menetapkan posisi diri .
Prinsip orientasi yang diformulasikan dlam pertanyaan pokok :
1)    Di manakah sekarang saya berada
2)   Dimanakah tujuan atau obyrk yang akan saya capai
3)   Bagaimanakah saya dapat sampai pada tujuan tersebut
Dengan demikian sebenarnya orientasi itu untuk menjawab pertanyaan :
1)    Dimana posisi dalam ruang
2)   Dimana tujuan yang dikehendaki oleh seorang tunanetra dalam ruang tersebut
3)   Susunan/ langkah yang tepat dari posisi sekarang sampai ke tujuan yang di kehendaki itu bagaimana.
Tahapan proses kognitif :
·         Persepsi
Terjadilah proses asimilasi data yang diperoleh dari lingkungan melalui indera-indera yang masih berfungsi seperti penciuman,perabaan,ataupun sisa penglihatan.
·         Analisis
Terjadilah proses pengorganisasian data yang diterima ke dalam beberapa kategori berdasarkan ketetapanya,keterkaitan sumber dan jenis sensorisnya.
·         Seleksi
Terjadi pemilihan data yang dibutuhkan dalam melakukaan orientasi yang dapat menggambarkan situasi lingkungan sekitar.
·         Perencanaan 
Terjadi proses merencanakan tindakan yang akan dilakukan berdasarkan data hasil seleksi sensori yang dapat yang sangat relevan untuk menggambarkan situassi lingkungan.
·         Pelaksanaan
Terjadi proses melaksanakan hasil perencanaan dalam suatu tindakan.

Mobilitas adalah kemampuan,kesiapan dan mudahnya bergerak dari satu posisi ke posisi yang lain yang diinginkan dengan baik, efisien , dan aman.
Antara orientasi dan mobilitas terdapat hubungan yang sangat erat keduanya tidak dapat dipisahkan. Orientasi tidak akan berguna tanpa mobilitas dan sebaliknya mobilitas tidak akan berhasil tanpa disertai orientasi. Orientasi dapat menyelamatkan anak sedangkan mobilitas dapat mengantarkan anak sampai tujuanl

Tujuan orientasi dan mobilitas adalah :
1)    Memberikan kelengkapan, sarana bagi anak di dalam melakukan kegiatan sehari-hari baik dalam melaksanakan studinya maupun yang lain agar dapat mandiri tanpa bergantung pada orang lain.
2)   Mempertajam indera-indera lain yang masih normal secara efektif , seperti indera pendengaran , penciuman , perasa dan sebagainya agar mereka mampu memenuhi kebutuhannya tanpa menggunakan indera penglihatan .
3)   Memberikan penghetahuan dan ketrampilan pada tunanetra dalam bergerak untuk mengatasi bahayanya .

Manfaat orientasi dan mobilitas adalah :
1)    Anak dapat memaksimalkan indera-indera lain dan meminimalkan keterbatasanya.
2)   Secara fisik akan lebih baik penampilan tubuh dan gaya jalanya.
3)   Secara sosial tunanetra akan lebih mampu berinteraksi dengan lingkunganya.
4)   Secara ekonomis tunanetra tidak banyak meminta bantuan orang lain , dia akan bergerak sendiri hingga sampai tujuanya.
5)   Akan menambah keberhasilan siswa tunanetra dalam proses belajar mengajar dan ketrampilan yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar